<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125</id><updated>2011-08-01T17:59:17.087-07:00</updated><category term='Ratahan'/><category term='Perjalanan Kolintang ke Jogjakarta'/><title type='text'>Kolintang</title><subtitle type='html'>Kolintang is ethnic  Indonesian percussion instrument
http://www.kolintang.co.id</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-5680360674570986249</id><published>2010-06-07T18:34:00.000-07:00</published><updated>2010-06-07T18:42:19.345-07:00</updated><title type='text'>Indonesian National Orchestra: Orkestra Musik Tradisional Pertama Dunia  Mei 21, 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/TA2e1qM4XaI/AAAAAAAAAC8/e3_5tcxHOoY/s1600/ino5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 105px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/TA2e1qM4XaI/AAAAAAAAAC8/e3_5tcxHOoY/s200/ino5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5480210966278331810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Indonesia memiliki orchestra musik tradisional pertama di dunia. Bila di Barat sudah ratusan tahun memiliki musik orkestra modern yang digunakan hingga sekarang ini, di Timur lahir orkestra musik tradisional yang diwakili dari seluruh wilayah Indonesia. Orkestra musik tradisional ini tergabung dalam  Indonesian National Orchestra (INO) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila dalam ujicoba orchestra musik tradisional ini berhasil, kita akan menjadi negara pertama di dunia yang memiliki national orchestra yang berbeda dengan orchestra musik umumnya selama ini yang bersumber dari  barat,” kata Franky Raden, pimpinan INO saat latihan di gedung Sapta Pesona Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Jakarta, 4 Mei 2010.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;INO melakukan pertunjukan perdana sebagai ujicoba performance mereka di Balairung Gedung Sapta Pesona Jakarta pada 12 Mei 2010. Dalam pegelaran musik tradisional yang difasilitasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) ini dihadiri para  musikus kreatif termasuk para maestro musik tradisional di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Frangky, ada tiga hal yang mendasari berdirinya INO , yakni estetika, bisnis dan politik. Dalam hal estetika, Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan budaya musik hampir tidak terbatas. Ragam bahasa musik Nusantara telah berkembang selama sedikitnya 3.000 tahun sehingga mampu menghasilkan bentuk-bentuk estetika musik yang sangat kokoh di wilayah budaya kita dari Sabang hingga Merauke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekayaan bahasa estetika ini akan membuat karya musik Indonesia tak pernah kering dan selalu membawa pembaharuan. “Kekayaan bahasa estetika ini menjadi sumber dari lahirnya INO yang ke depan  siap bersaing di panggung internasional dengan orchestra ternama manapun,” kata Franky yang dikenal sebagai Etnomusikolog .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi bisnis, INO akan menjadi produk budaya khas Indonesia yang memiliki nilai jual dan ekspor sangat tinggi karena keunikannya. Dengan nilai jualnya ini INO diharapkan menjadi sebuah orkestra profesional yang dapat menghidupi para pemainnya secara financial. Selain itu INO juga akan bekerja keras untuk menjadi produk unggulan industri kreatif Indonesia yang dapat bersaing di pasar musik internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya berharap INO menjadi wadah bagi para pemusik Indonesia yang kreatif dan jenius untuk tampil berlaga dalam gedung-gedung konser yang bertebaran di benua Eropa, Amerika, dan Asia-Pasifik,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dari  segi politik, INO akan menjadi ujung tombak pergulatan ideologi antara pelbagai negara di dunia yang saat ini berlomba-lomba menyebarkan pengaruh kekuasaan dan hegemoni mereka melalui produk-produk budaya yang merupakan soft power. Seperti apa yang dikatakan oleh Immanuel Wallerstein jauh-jauh hari, kegiatan budaya dewasa ini sudah menjadi arena dari pertarungan ideologi di panggung internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui kegiatan budaya inilah negara-negara yang kuat menjaring lawan-lawan mereka untuk masuk ke dalam kerangka pemikiran ekonomis maupun politik yang dapat mereka kendalikan. Dalam konteks kehidupan masyarakat paska-kolonial, negara yang tidak memiliki kekuatan resistensi terhadap pertarungan budaya global ini akan mudah menjadi mangsa yang tanpa daya. “Keberadaan INO ingin memposisikan diri sebagai bentuk pertahanan dan perlawanan terhadap kekuatan dominasi dari luar yang setiap saat siap membuat kita menjadi tergantung kepada mereka khususnya ketergantungan dari musikal dan budaya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasaran Kembudpar Noviendi Makalam merasa bangga dengan banyaknya musik tradisional Indonesia yang berhasil dilestarikan sehingga mengharumkan bangsa di berbagai pentas dunia. “Kehadiran INO jelas akan memberikan warna musik Indonesia di pentas dunia apalagi sajian musiknya menarik dan unik,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari 50 alat musik tradisional dari berbagai daerah di tanah air dimainkan dalam acara pegelaran tersebut. Dari alat musik tradisional itu juga ditampilkan alat musik hasil ciptaan sendiri oleh tiga orang local genius, yakni Anusirwan (Sumatera Barat) yang membuat rebab besar dan perangkat perkusi metalofon baru,  Bona Alit (Bali) yang membuat rebab raksasa, dan I Nyoman Windha (Bali) membuat jegog raksasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Budpar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-5680360674570986249?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/5680360674570986249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2010/06/indonesian-national-orchestra-orkestra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/5680360674570986249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/5680360674570986249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2010/06/indonesian-national-orchestra-orkestra.html' title='Indonesian National Orchestra: Orkestra Musik Tradisional Pertama Dunia  Mei 21, 2010'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/TA2e1qM4XaI/AAAAAAAAAC8/e3_5tcxHOoY/s72-c/ino5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-2263079196488457427</id><published>2010-06-07T18:25:00.000-07:00</published><updated>2010-06-07T18:44:27.512-07:00</updated><title type='text'>Kolintang dalam  Indonesia National Orchestra.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/TA2dCj4_9tI/AAAAAAAAAC0/s5yigAc78QA/s1600/ino8.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/TA2dCj4_9tI/AAAAAAAAAC0/s5yigAc78QA/s200/ino8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5480208988899374802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 21 Mei 2010 ,dipertunjukan Musik Orchestra  yang unik dan pertama kalinya di gedung Sapta Pesona Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orchestra tersebut menggunakan alat alat musik tradisional dari seluruh tanah air Indonesia. Sebagai alat musik dari  Sulawesi Utara kolintang juga ikut berpartisipasi dalam Indonesia National Orchestra.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Personal kolintang dalam Indonesia National Orchestra diwakili oleh dua orang dari Group Kolintang Petrus Kaseke,yaitu  Liza Markus (siswa sekolah musik YPM) dan Markus Sugi (seniman otodidak) yang dengan bangga mendapat kepercayaan untuk berperan serta menampilkan alat musik Minahasa(Sulawasi Utara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolintang memegang peranan penting didalam orchestra tersebut,karena kolintang dapat merangkap dua fungsi dalam alat musik,yaitu fungsi melodis maupun fungsi ritmis(sebagai alat perkusi),dibandingkan dengan alat musik kendang yang tidak dapat memainkan fungsi melodis,atau rebab yang sulit memainkan fungsi ritmis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan kolintang dipadu bersama dengan alat musik lain dengan menggunakan partitur, setara dengan fungsi alat musik marimba dalam  orchestra barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat musik kolintang yang dipilih adalah melody kolintang(Ina Esa) yang mempunyai range nada 3.5 oktaf serta kolintang 2 dengan oktaf yang lebih rendah( Karua ) yang dengan kreatif digabungkan dengan cello (sela) oleh Liza Markus demi mendapatkan range nada yang mencukupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukkan pertama Indonesia National Orchestra,mendapat perhatian dari tokoh musik Indonesia,artis dan pengamat musik Indonesia  seperti Guruh Soekarno Putra,Adie M.S, Dwiki Dharmawan,Christine Hakim,Bagito,Bens leo dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana Indonesia Nartional Ochestra mengadakan tour Australia th2011 dan Eropa th2012,sekiranya event event serupa ini dapat membuat kolintang lebih dikenal lagi di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By: Markus Sugi&lt;br /&gt;http://facebook.com/kolintang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-2263079196488457427?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/2263079196488457427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2010/06/kolintang-dalam-indonesia-national.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/2263079196488457427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/2263079196488457427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2010/06/kolintang-dalam-indonesia-national.html' title='Kolintang dalam  Indonesia National Orchestra.'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/TA2dCj4_9tI/AAAAAAAAAC0/s5yigAc78QA/s72-c/ino8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-5683367665833111324</id><published>2010-02-21T07:12:00.000-08:00</published><updated>2010-02-21T07:31:23.798-08:00</updated><title type='text'>Karakteristik angklung 5M + 1M</title><content type='html'>Daeng Soetigna adalah tokoh angklung modern yang pada tahun 1938 berhasil membuat angklung diatonis yang digubahnya dari angklung tradisional pentatonis.&lt;br /&gt;Menurut Daeng Soetigna angklung memiliki karakteristik-karakteristik unik yang membuatnya mampu  bertahan meskipun berasal dari kesenian tradisionil. Karakteristik tersebut diutarakan oleh Daeng Soetigna dengan sebutan 5M, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1 Mudah: tidak diperlukan teknik yang sulit untuk dapat memainkan angklung&lt;br /&gt;2 Murah: dibandingkan alat musik modern yang lain seperti guitar atau piano.&lt;br /&gt;3 Menarik:keunikannya membangkitkan perhatian terhadap musik&lt;br /&gt;4 Mendidik:  mengajarkan kerjasama,disiplin,ketangkasan&lt;br /&gt;5 Massal: cocok dimainkan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;Dengan karakteristik diatas,tidak mengherankan apabila angklung menjadi terkenal di seluruh dunia,bahkan alat musik angklung  diusulkan masuk daftar warisan budaya dunia.&lt;br /&gt;Namun dipandang dari sisi produsen sejalan dengan meningkatnya popularitas angklung,karakteristik 5M (mudah,murah,menarik,mendidik,massal)  tidak cukup memuaskan konsumen.Konsumen tidak puas dengan hanya unik dan menarik dari segi penampilan saja,tetapi juga menuntut 1 “M” lagi yaitu mutu,baik  mutu suara maupun keawetan alat musik.&lt;br /&gt;Suara yang di tune dengan akurat diperlukan untuk berkolaborasi dengan alat musik modern yang lain. &lt;br /&gt;Untuk mendapatkan “M”(mutu) yang satu ini diperlukan kerja ekstra yang menyita biaya dan waktu yaitu:&lt;br /&gt;-perlu lebih memperhatikan  proses pengeringan bahan bambu untuk angklung.&lt;br /&gt;-perlu melakukan proses sortir terhadap tabung tabung angklung yang bersuara kurang nyaring.&lt;br /&gt;-perlu melakukan proses double tuning,pertama dengan alat tuning computer,kedua di tuning secara manual dengan kepekaan pendengaran.&lt;br /&gt;Sebaliknya dari sisi lain lagi,beberapa orang yang awam masih belum dapat membedakan antara angklung untuk souvenir dan angklung sebagai alat musik,yang perbandingan harga diantara keduanya cukup jauh.&lt;br /&gt;By: LM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-5683367665833111324?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/5683367665833111324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2010/02/karakterstik-angklung-5m-1m.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/5683367665833111324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/5683367665833111324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2010/02/karakterstik-angklung-5m-1m.html' title='Karakteristik angklung 5M + 1M'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-1324111507763240332</id><published>2010-02-19T18:49:00.000-08:00</published><updated>2010-02-19T19:02:06.887-08:00</updated><title type='text'>The Origin of African Xylophones  from Indonesia?</title><content type='html'>Contemplating the Origin of African Xylophones&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While the xylophone is the most prominent instrument among the Chopi, they also use drums (Ncinga and Ngoma cikulu), idiophones, chordophones (such as the chizambi musical bow), and aerophones (ocarinas). The historical distribution of xylophones in Africa is not very well understood, partially because of the tentative and conflicting evidence for its cultural and geographic origins. Xylophones in Africa are most abundantly found in West Africa above 15 degrees N latitude, and Eastern and Southern Africa between 5 and 12 degrees S latitude, though they are also very common in Central Africa. While the origins of xylophones in Africa remain unknown, some theorists have argued that they are indigenous to the continent (Ankermann), while others have proposed that they were brought over from Indonesia (Kunst and Hornbostel).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; It has been suggested that Portuguese trade ships may have transported the concept of xylophones from Indonesia, however an account from an early Arabic traveler identifies xylophones in Niger in 1352 A.D., predating the arrival of the Portuguese by at least 300 years (Jones 1964:148). Historians speculate that Indonesians settled in Mozambique around 500 ce, based upon evidence of their settlement in other large river valleys in Africa (Mozambique 2004). This makes a very strong case for the potential influence of Indonesian musical practices and instrumental resources in Mozambique. A.M. Jones is one theorist who has written extensively on this connection, and has argued that several common musical characteristics demonstrate this cultural relationship, including the equiheptatonic tuning of the Chopi timbila (1964). As mentioned earlier, the size of Chopi xylophone ensembles is unique amongst African xylophone traditions, which represents another possible connection to Indonesia, along with the highly orchestrated Ngodo dance dramas similar to Gamelan shadow puppet dramas. It is however, important to distinguish between influences and origins, as the latter is extremely difficult to pin down and can become overshadowed by accounts of the former. Thus while xylophone practices in southern and eastern Africa have almost certainly been influenced by Indonesian travelers and settlers, they may have originated on the continent, and have undoubtedly been developed according to a deeply African musical sensibility.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The lamellophone is another instrument that is widely dispersed throughout southern, central, and eastern Africa, and has been linked to the development of xylophones in several different studies. Gerhard Kubik, in an examination of the origins of the lamellophone, finds that among several peoples in central, eastern, and southern Africa, the word stems for lamellophones and xylophones are the same (1999:24). He takes this line of inquiry further, suggesting that the similarity of terms demonstrates local associations between instruments, and that xylophones and lamellophones in fact developed in conjunction with each other (Kubik 1999:25). Thus the lamellophone is not an evolution of the xylophone or vice versa, but rather the lamellophone emerged in various areas of Africa through trade and invention, and was consequently developed through many of the same musical concepts used on xylophones. A similar connection was drawn by A.M. Jones earlier (though with less extensive evidence) when he argued that lamellophones originated from xylophones in the southeastern region of Africa, citing similarities in tuning systems, as well as linguistic commonalities in the terms used to describe them (Jones 1964:34). Hugh Tracey has brought this line of thinking to bear on the music of the Chopi, arguing that the Chopi timbila have an identical tuning to the nijari lamellophone of the Karanga people of Southern Rhodesia, who lived with the Chopi approximately 500 years ago (Tracey 1948:123).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From:UCLA Ethnomusicology Archive &lt;br /&gt;http://www.ethnomusic.ucla.edu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-1324111507763240332?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/1324111507763240332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2010/02/origin-of-african-xylophones-from.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/1324111507763240332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/1324111507763240332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2010/02/origin-of-african-xylophones-from.html' title='The Origin of African Xylophones  from Indonesia?'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-16793257411378455</id><published>2010-02-18T20:40:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T21:04:15.823-08:00</updated><title type='text'>STANDARISASI ALAT MUSIK KOLINTANG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34W2N_-nrI/AAAAAAAAACs/Z_BwrLtosy4/s1600-h/standarisasikolintang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34W2N_-nrI/AAAAAAAAACs/Z_BwrLtosy4/s200/standarisasikolintang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439810520636890802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika acara pencatatan guiness book bulan oktober 2009 di Tondano,Petrus Kaseke di undang sebagai salah satu pembicara dalam forum tersebut.&lt;br /&gt;Topik yang menjadi bahan pembicaraan antara lain asal usul nama kolintang dan pembagian nama alatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Kejelasan asal usul nama Kolintang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Karena ada beberapa versi tentang asal usul kolintang.Ada yang versi cerita rakyat tentang seorang gadis yang bernama Lintang,ada lagi versi cerita rakyat yang lain bahwa alat musik kolintang ditemukan oleh seorang pemuda ditengah hutan.&lt;br /&gt;Pendapat Petrus Kaseke pribadi mengenai nama kolintang berasal dari bunyi kayu yang dipukul menghasilkan suara “tong ting tang.”&lt;br /&gt;Kalau dilihat dari bahannya kolintang adalah alat musik jenis xylophone, yang asal usulnya satu akar dengan gambang dari jawa,atau kelentung(alat musik perkusi dari bilah kayu  yang sudah disebutkan di dalam Kitab Suci sebagai alat musik pada jaman raja Daud).&lt;br /&gt;Di Philipina dikenal pula alat musik pukul sejenis gamelan ,dengan nama yang mirip yaitu "kulintang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Mengenai pembagian nama alat ,ada  3 versi yang umum digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petrus kaseke menamakan alat alat kolintang berdasarkan karakteristik suara dan rentang nada:&lt;br /&gt;1.Melody sebagai penentu lagu&lt;br /&gt;2.Alto sebagai pengiring (accompanion) bernada tinggi&lt;br /&gt;3.Tenor sebagai pengiring (accompanion) bernada rendah&lt;br /&gt;4.Cello sebagai penentu irama dan gabungan accompanion dengan bass&lt;br /&gt;5.Bass sebagai penghasil nada nada rendah.&lt;br /&gt;Alasan pemberian nama diambil dari pengalamannya memimpin paduan suara dimana suara perempuan yang tinggi dan suara laki laki yang lebih rendah dibagi menjadi : sopran,alto,tenor dan bass.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evert van lesar : dari Ikatan Pelatih Musik Kolintang Jakarta pada tahun 1996 mempopulerkan nama nama alat kolintang yang menggali dari bahasa daerah di Minahasa seperti:&lt;br /&gt;Melody= Ina taweng artinya “ibu”&lt;br /&gt;Tenor = Karua  artinya "kedua”&lt;br /&gt;Alto = katelu    artinya “ketiga”&lt;br /&gt;Cello = sella&lt;br /&gt;Bass = loway artinya “anak laki laki yang berbadan besar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penamaan alat kolintang versi lainnya adalah dengan substitusi dari alat musik yang sudah ada.&lt;br /&gt;Tenor = gitar ( dengan wilayah nada yang di tone sepadan dengan senar gitar terendah dan tertinggi) &lt;br /&gt;Alto = Banjo (ukulele)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat bersaing di dunia Internasional,diperlukan standarisasi penamaan maupun standarisasi ukuran kolintang. Hasil dari pertemuan di Tondano waktu GuinessWorldRecord(Oktober 2009),ada kesepakatan dibuat standarisasi yang bisa diterima oleh “semua kalangan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perbandingan, pembagian alat musik lain yang sudah popular antara lain:&lt;br /&gt;Saxophone ada jenis alto saxophone,tenor saxophone.&lt;br /&gt;Marimba : sopran marimba, alto marimba,bass marimba.&lt;br /&gt;Biola: cello biola dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apapun standarisasi yang akan ditetapkan,”Angklung KolintangPetrus Kaseke” sudah siap menerima,karena sebetulnya Petrus Kaseke sudah memiliki prototypenya baik kolintang model Manado yang kecil kecil(type kid kolintang),atau standar IPMKJ(type pro),maupun standar produksi Petrus Kaseke(type Internasional). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By: Markus Sugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-16793257411378455?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/16793257411378455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2010/02/standarisasi-alat-musik-kolintang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/16793257411378455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/16793257411378455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2010/02/standarisasi-alat-musik-kolintang.html' title='STANDARISASI ALAT MUSIK KOLINTANG'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34W2N_-nrI/AAAAAAAAACs/Z_BwrLtosy4/s72-c/standarisasikolintang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-7756107365194570516</id><published>2009-11-04T21:43:00.000-08:00</published><updated>2009-11-04T21:47:32.178-08:00</updated><title type='text'>Kompas.Com - "Bakudapa" di Pasang Surut Kolintang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/SvJm2Pje5JI/AAAAAAAAAB8/Hy7B-d1p0tU/s1600-h/0739252p.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 151px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/SvJm2Pje5JI/AAAAAAAAAB8/Hy7B-d1p0tU/s200/0739252p.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400491985244972178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Bakudapa" di Pasang Surut Kolintang&lt;br /&gt;KOMPAS/NASRULLAH NARA&lt;br /&gt;Sejumlah pemain, pelatih, dan pembuat alat musik kolintang asal Minahasa, yang telah puluhan tahun merantau di Jakarta dan kota-kota lainnya di Pulau Jawa, mengamati sebuah kolintang di Stadion Maesa, Tondano, Sulawesi Utara, Sabtu (31/10).&lt;br /&gt;Artikel Terkait:&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Rekor Dunia Membentangkan Paten Kolintang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 5 November 2009 | 07:41 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh NASRULLAH NARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulu kuduk Hein Sorongan (55) merinding ketika musik kolintang mengalun di Stadion Maesa, Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Sabtu (31/10) sore. Mata Petrus Kaseke (67) bahkan berkaca-kaca menyaksikan persembahan massal kolintang dengan jumlah pemain dan alat mencapai 1.223.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah alunan lagu ”Tembo-temban” dan ”Minahasa Kina Toanku” yang dibawakan mendayu oleh dua gadis Minahasa, ingatan mereka terlontar ke masa kanak-kanak dahulu di Bumi Minahasa. Selain Hein dan Petrus, juga hadir ratusan penggiat kolintang, termasuk pelatih dan pembuat kolintang, baik yang bermukim di Minahasa maupun yang tinggal di sejumlah kota di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang melintang di dunia seni tradisi, inilah kali pertama opa-opa itu menyaksikan kolintang dimainkan massal. Sebuah kerinduan akan bangkitnya kembali musik kolintang di tatar Minahasa membuncah di sanubari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, pergelaran kolintang untuk dicatat dalam Guinness World Records itu juga dirangkai dengan pentas musik bambu yang dimainkan 3.011 orang. Kolintang dan musik bambu adalah seni tradisi yang tumbuh dan mengakar di tatar Minahasa sebelum kemudian menyebar ke daerah lain di Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolintang raksasa yang dipajang dalam acara itu terbuat dari kayu cempaka berukuran panjang 8 meter, lebar 2,5 meter, tinggi 2 meter, berat 3,168 kilogram, dan volume bahan 13,7 meter kubik. Adapun musik bambu berupa seng klarinet berukuran panjang lengkung/lingkar dalam-luar 4-32 meter, diameter mulut 6 meter, dan tinggi 8 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perwakilan Guinness World Records, Lucia Sinigagliesi, manggut-manggut takjub seraya berucap, ”Wow, it’s very nice….” Pencatatan seni tradisi Minahasa itu pada buku rekor dunia menutup ruang negara lain untuk mengklaimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diprakarsai Institut Seni Budaya Sulawesi Utara pimpinan Benny J Mamoto, pergelaran itu sarat misi primordialisme dan patriotisme. Diawali dengan seminar dan lokakarya, seluruh rangkaian kegiatan itu dihadiri perwakilan komunitas kolintang dari provinsi di Pulau Jawa. Tujuannya, selain menggapai pengakuan dunia agar tidak diklaim negara lain, juga untuk menyadarkan fenomena pasang surutnya kolintang di Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami ingin membuktikan bahwa akar seni tradisi kolintang dan musik bambu berasal dari Minahasa sebelum kemudian menjadi medium perekat bangsa,” ujar Hendrik J Mantiri (62), penggiat kolintang sekaligus penerima pin maestro musik bambu dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan Minahasa mengacu kepada salah satu suku yang menghuni jazirah utara Pulau Sulawesi, di samping suku Sanger-Talaud, dan Bolaang Mongondow. Entitas budaya itu awalnya menghuni sebuah wilayah yang bernama Kabupaten Minahasa. Belakangan, seiring dengan era otonomi daerah, kabupaten itu mekar dari daerah induknya, yakni Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa Utara, Minahasa Selatan, dan Minahasa Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi opa-opa penggiat kolintang itu, pulang ke tanah leluhur merupakan kesempatan langka. Biasanya mereka pulang ke kampung cuma dalam rangka Natal. Itu pun tidak rutin karena sudah dibalut kesibukan mengurus anak dan cucu serta aktivitas gereja. ”Torang (kita) bisa bakudapa (ketemuan) begini di Minahasa karena kolintang. Sayang sekali waktunya mepet. Torang nyandak bisa sama-sama keliling kampung halaman,” tutur Hein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik kegembiraan akan reuni seperti itu, tebersitlah galau. Gempuran budaya pop membuat kolintang tidak lagi rutin dilombakan. Lomba setingkat kabupaten paling banter sekali setahun. Belakangan, di pesta hajatan, kolintang sudah tergantikan organ tunggal (digital).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redupnya kolintang juga bisa diukur dari kian jarangnya jumlah pembuat kolintang. Bengkel kolintang yang bertahan di wilayah Minahasa bisa dihitung dengan sebelah jari. Salah satunya adalah milik Joudy Aray di Tomohon, pembuat kolintang raksasa yang dipajang dalam pergelaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, nilai plus dari hajatan itu terletak pada kehadiran putra-putra Minahasa yang merantau dengan bekal kecakapan bermain kolintang dan di tanah rantau konsisten menekuni bidang itu. Mereka telah meninggalkan Minahasa pada usia 20-25 tahun dengan predikat serba bisa: sebagai pemain, pelatih, dan pembuat kolintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendrik J Mantiri menegaskan, pemain dan pembuat kolintang sekaligus harus paham ukuran tebal-tipisnya serutan perut balok-balok kayu waru atau cempaka di atas peti resonator untuk mendeteksi nada ”tong” (nada rendah), ”ting” (tinggi), dan ”tang” (tengah). Irama-irama itulah yang muncul dari instrumen musik yang minimal terdiri atas enam unit, yakni satu melodi, satu benyo, satu juk, dua gitar, dan satu bas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-7756107365194570516?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/7756107365194570516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/11/kompascom-bakudapa-di-pasang-surut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/7756107365194570516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/7756107365194570516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/11/kompascom-bakudapa-di-pasang-surut.html' title='Kompas.Com - &quot;Bakudapa&quot; di Pasang Surut Kolintang'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/SvJm2Pje5JI/AAAAAAAAAB8/Hy7B-d1p0tU/s72-c/0739252p.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-3461060546140631062</id><published>2009-11-02T05:40:00.000-08:00</published><updated>2009-11-02T05:43:06.515-08:00</updated><title type='text'>Hein Kaseke</title><content type='html'>Hein Kaseke&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1967 mulai melatih Musik Bambu dibeberapa tumpukan Musik Bambu di daerah Ratahan dan sekitarnya. Tahun 1980, penglihatannya tiba-tiba hilang. Tapi bukan berarti menyurutkanya untuk mendalami Musik Bambu. Kecintaaannya pada Musik Bambu makin menjadi-jadi. ”Mata buta bukan berarti akhir dari segala-gala.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya makin terpacu. Saya percaya semua yang terjadi so diatur yang Kuasa,” kata pria kelahiran Tousuraya 10 Desember 1947 ini. Tahun 1983, untuk lebih fokus pada pengembangan Musik Bambu, ia meminta pensiun dini sebagai pegawai negeri yang dilakoninya sejak tahun 1965. Kini, hidupnya tiada hari tanpa Musik Bambu baik sebagai pelatih, pengrajin maupun mengaranger lagu. Dan dari tangan suami Elisabeth Punuhsingon ini sudah 5 (lima) album kaset yang ia keluarkan antara lain: Album Rohani Musik Bambu Klarinet dan album Musik Klarinet bersama tumpukan Harapan Taruna Jaya Pangu Ratahan.&lt;br /&gt;Dengan adanya penghargaan ini, dunia seni budaya Sulawesi Utara mendapat gairah baru. Saya percaya dengan adanya penghargaan ini akan memacu para seniman untuk terus berkarya bukan karena ada penghargaan tetapi karena adanya perhatian dan apresiasi dari para peminat seni budaya khususnya Institut seni Budaya sulawesi Utara. Saya bersyukur adanya seorang Benny Mamoto yang datang bagaikan mata air di tengah gurun pasir, yang memberi dahaga bagi para seniman tua seperti saya. Ini adalah adalah hadiah istimewa di hari ulang tahun saya yang ke 62. Makase Tuhan Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-3461060546140631062?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/3461060546140631062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/11/hein-kaseke.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/3461060546140631062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/3461060546140631062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/11/hein-kaseke.html' title='Hein Kaseke'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-6078992307921171098</id><published>2009-11-02T05:34:00.000-08:00</published><updated>2009-11-02T05:44:54.036-08:00</updated><title type='text'>Nelwan Katuuk</title><content type='html'>Almarhum Nelwan Katuuk&lt;br /&gt;Nama Almarhum Nelwan Katuuk, dalam jejak sejarah Musik Kolintang sudah begitu menyatu. Sebab boleh dikata dari tangan kreatifnya Musik Kolintang tercipta, yang ditandai dengan mengembangkan ensambel musik Kolintang dengan menetapkan nada-nada Chromatic dan Diatonik. Uniknya, Almarhum yang lahir di Desa Kauditan Minahasa Utara pada 30 Maret 1920, sejak lahir sudah tidak bisa melihat. Tapi walaupun buta namun Tuhan memberikan karunia lain yang begitu dasyat pada seni musik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam rekam jejak pengabdiannya, tercatat almarhum telah mengkreasikan Kolintang tradisional berupa orkes yang menggabungkan alat musik kolintang yang diciptakan dengan musik lainnya yang terdiri dari Kolintang Melodi, Gitar, Ukulele (Juk), String Bass tradisional. Juga dari tanganya sudah tercipta kurang lebih 20 lagu daerah.&lt;br /&gt;Mewakili istri almarhum; Soesana Lasut, salah seorang puterinya Dra. Rachel H.E. Katuuk, mengungkapkan penghargaan yang diberikan Bapak Benny Mamoto melalui Institut Seni Budaya Sulut ini makin mempertegas bahwa Musik Kolintang milik Sulawesi Utara. Baginya, seni budaya tanpa perhatian tak akan berkembang. ”Perasaan kami keluarga tak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata. Yang pasti, kami terharu, walau Papa so nyanda ada tapi buah karyanya diperhatikan di daerah tempat lahirnya. Ini adalah penghargaan pertama dari Sulawesi Utara kepada almarhum. Sebab negara lewat penghargaan yang diberikan Presiden Soekarno pada 1963 mengakui almarhum adalah pencipta Musik Kolintang. Jadi penghargaan ini melengkapi pengakuan yang sudah ada atas karya-karya Almarhum namun peristiwa ini menjadi begitu istimewa karena penghargaan datang dari daerah tempat Almarhum lahir dan meninggal. Nelwan Katuuk dipanggil Sang Kuasa pada 26 Januari 1996.&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-6078992307921171098?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/6078992307921171098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/11/kolintang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/6078992307921171098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/6078992307921171098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/11/kolintang.html' title='Nelwan Katuuk'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-4476208332504621049</id><published>2009-06-19T17:33:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T18:12:15.190-07:00</updated><title type='text'>Sampah kayu kolintang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/Sjw2VlGYPCI/AAAAAAAAAB0/R8J7FpDMUT0/s1600-h/daurulang.jpeg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/Sjw2VlGYPCI/AAAAAAAAAB0/R8J7FpDMUT0/s200/daurulang.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349210201773325346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dan peduli terhadap pencemaran lingkungan butuh usaha yang keras dan memang tidak mudah untuk mengajarkannya.&lt;br /&gt;Tetapi mungkin bisa berhasil bila masalah "kesadaran" ini diberi sedikit uang dan inilah yang dilakukan oleh pemerintah Cina.&lt;br /&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kotak mesin daur ulang (recycling machine) yang diletakkan di tengah kota ini pasti akan membuat masyarakat berbondong-bondong untuk rajin membuang sampah, khususnya untuk sampah alumunium dan plastik yang mempunyai kode bar (barcode) seperti kaleng minuman dan lainnya.&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, karena setiap sampah yang "diterima" oleh mesin ini maka anda akan mendapatkan 0,1 yuan atau sekitar Rp. 132,-.&lt;br /&gt;Setelah meluncurkan mesin daur ulang ini, dalam seminggu pertama mereka bisa mengumpulkan sebanyak 3.000 botol kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara mengenai sampah,produksi kolintang juga menghasilkan bekas bekas serutan kayu dan potongan potongan kayu wilahan yang kami belum mempunyai cara untuk memanfaatkan atau mendaur ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opa yohanes kaseke yang paling rajin membuang sampah kolintang.Karena sudah terbiasa bekerja di kebun selama di Minahasa,maka tidak betah berdiam diri selama berada di Salatiga.Kondisi fisik opa memang kuat,menurut cerita sewaktu umur 60 tahun masih sanggup memanjat pohon kelapa yang tinggi.Waktu sudah berumur 80 tahun,masih rajin membuang sampah kolintang di Salatiga,tetapi karena untuk membuang sampah harus menyebrang jalan yang lalu lintasnya ramai maka kami larang karena mengkhawatirkan keselamatannya.Opa tidak boleh membuang sampah,dengan alasan kayu yang masih cukup panjang tidak boleh dibuang karena akan dipakai lagi.Tidak kehilangan akal,maka kayu yang masih panjang panjang dan masih dapat dimanfaatkan dipotong kecil kecil oleh opa,supaya dapat melakukan kegiatan membuang sampah.&lt;br /&gt;Akhirnya opa dilarang membuang sampah baik kayu pendek ataupun kayu panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang umur opa sudah hampir 100 tahun,kondisinya sudah agak menurun,karena tidak melakukan kegiatan bekerja lagi.Kami menyesal karena melarangnya membuang sampah,mestinya dibiarkan saja membuang sampah sebagai kegiatan sehari harinya berolah raga.&lt;br /&gt;By:MS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-4476208332504621049?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/4476208332504621049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/sampah-kayu-kolintang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/4476208332504621049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/4476208332504621049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/sampah-kayu-kolintang.html' title='Sampah kayu kolintang'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/Sjw2VlGYPCI/AAAAAAAAAB0/R8J7FpDMUT0/s72-c/daurulang.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-5821624710129047119</id><published>2009-06-19T17:22:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T17:25:44.108-07:00</updated><title type='text'>Asal Usul Kolintang(cerita rakyat)</title><content type='html'>Pada jaman dahulu didaerah Minahasa Propinsi Sulawesi Utara ada sebuah desa yang indah bernama To Un Rano yang sekarang dikenal dengan nama Tondano.&lt;br /&gt;Didesa To Un Rano itu tinggalah seorang  gadis cantik jelita.Kecantikannya tersohor keseluruh pelosok desa,sehingga banyak dibicarakan orang,maka tak mengherankan banyak pemuda yang jatuh hati kepadanya.Gadis itu bernama Lintang.Ia pandai menyanyi , suaranya nyaring dan merdu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada suatu hari didesa To Un Rano,diselenggarakan pesta muda mudi.Saat itu seorang pemuda gagah dan tampan memperkenalkan diri kepada Lintang”Makasiga namaku,aku berasal dari desa Kelabat Atas,”kata Makasiga sambil menjabat tangan Putri Lintang.&lt;br /&gt;Memang putri Lintang pernah mendengar nama Makasiga.Makasiga adalah seorang pemuda ahli ukir-ukiran dari desa Kelabat Atas.Dan perkenalan mereka itupun berlanjut.&lt;br /&gt;Makasiga ingin meminang putri Lintang.Putri Lintang menerima pinangan Makasiga,tetapi dengan satu syarat.”Buatkan aku musik yang lebih merdu dari bunyi seruling emas*,”kata Putri Lintang kepada Makasiga.Makasiga menyanggupi persyaratan Putri Lintang tersebut.Dan berkat keuletannya,dengan cepat Makasiga mendapatkan alat musik yang lebih keras dari bunyi seruling emas*,namun  bukan itu yang dimaksud Putri Lintang. &lt;br /&gt;Akhirnya Makasiga berkelana mencari alat musik yang dimaksud Putri Lintang.&lt;br /&gt;Makasiga berkelana keluar masuk hutan,ternyata  alat musik yang dimaksud Putri Lintang belum didapatkan.Untuk mengusir hawa dingin dimalam hari,Makasiga membelah-belah kayu dan menjemurnya.Setelah belahan kayu itu kering ,lalu diambil satu persatu dan dilemparkannya ketempat lain.Sewaktu belahan kayu itu dilempar dan jatuh ketanah,saat itulah belahan-belahan kayu itu mengeluarkan bunyi-bunyian yang amat nyaring dan merdu.&lt;br /&gt;“Ha, belahan-belahan kayu ini pasti dapat dibuat alat musik,”pikir Makasiga.&lt;br /&gt;Berkat ketekunan dan keuletan Makasiga,akhirnya Makasiga berhasil membuat alat bunyi-bunyian itu.&lt;br /&gt;Diletakkannya lidi berderet berjajar dua.Dari deretan lidi di susun tali serat pangkal daun enau.Potongan potongan kayu dibuat berbeda panjangnya yang merupakan urutan not -not tertentu,kemudian di susun pada tali itu.Alat bunyi -bunyian diletakkan pada sebuah palung yang kakinya ada empat setinggi paha.&lt;br /&gt;“Hem, pasti Putri Lintang puas dengan alat bunyi-bunyian ini dan pinanganku diterima,”gumam Makasiga sambil membunyikan alat itu.&lt;br /&gt;Dari jauh ada dua orang pemburu yang mendengarnya.Mereka ketakutan karena dikiranya setan penunggu hutan sedang bermain musik.&lt;br /&gt;Namun setelah pemburu itu mendekatinya,ternyata mereka mengenalnya.Ia adalah Makasiga dari desa Kelabat Atas .&lt;br /&gt;Kedua pemburu sangat terkejut melihat Makasiga yang telah menjadi kurus kering dan lemah.Sebab selama dihutan Makasiga tidak pernah makan dan minum.Yang ia cari adalah alat bunyi bunyian yang dapat diterima dan menyenangkan hati Lintang.&lt;br /&gt;Saat itu kedua pemburu membawa Makasiga dengan tandu pulang ke Desa Kelabat Atas.Makasiga jatuh sakit yang amat parah.Akhirnya Makasiga meninggal dunia.&lt;br /&gt;Putri Lintang yang mendengar bahwa Makasiga telah meninggal dunia,langsung jatuh sakit parah dan akhirnya menyusul Makasiga di alam baka.Mereka telah meninggalkan jasa tiada tara yaitu telah menemukan alat musik yang dikenal dengan nama kolintang.&lt;br /&gt;Dari:Cerita Asli Indonesia&lt;br /&gt;*seruling emas:alat musik yang berbunyi merdu dan indah, milik Putra Mahkota Raja Mongondow yang gagal meminang Putri Lintang karena kasus tertentu.&lt;br /&gt;**referensi lain mengenai seruling emas,dapat dibaca dibuku cerita silat karangan Kho Ping Ho.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-5821624710129047119?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/5821624710129047119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/asal-usul-kolintangcerita-rakyat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/5821624710129047119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/5821624710129047119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/asal-usul-kolintangcerita-rakyat.html' title='Asal Usul Kolintang(cerita rakyat)'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-4589659074368696821</id><published>2009-06-14T08:11:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T17:27:14.960-07:00</updated><title type='text'>Diajar berdagang oleh Pastur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/SjWVUUXzpSI/AAAAAAAAABs/aAby5LAzGdY/s1600-h/opabuyut.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/SjWVUUXzpSI/AAAAAAAAABs/aAby5LAzGdY/s200/opabuyut.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347344308870817058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Diajar berdagang oleh pastur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjualan kolintang pertama,terjadi pada tahun 1964 kepada turis/misionaris dari Amerika yang datang ke Jogjakarta,pada waktu opa Petrus menjadi mahasiswa Universitas Gajahmada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang situasi dan kondisi pada saat itu mendukung sehingga kolintang perdana dapat dijual ,kalau pada saat itu opa Petrus masih tinggal di Minahasa,mungkin membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk dapat memproduksi kolintang secara komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suatu ketika seorang pastur Indonesia datang mengantar turis asing untuk membeli kolintang,kebetulan opa Petrus sangat mengharapkan kolintangnya laku terjual karena sangat membutuhkan uang untuk biaya sehari hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opa petrus sangat sedih waktu Pastur  kaget mendengar harga yang diajukan opa Petrus,sambil bertanya dalam hati ,akan ditekan serendah apalagi untuk kolintang yang sudah murah ini,padahal kolintang harus  laku supaya dapat menutup biaya sehari hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak disangka sangka Pastur mengatakan kepada opa Petrus agar menjual kepada turis asing yang dia bawa seharga dua kali lipat dari harga yang diajukan opa Petrus.&lt;br /&gt;Tanpa menawar nawar lagi,turis asing itu membeli kolintang seharga yang di usulkan Pastur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal produksi kolintang memang belum ada standarisasi harga jual seperti sekarang ini,selain itu memang susah juga menetapkan harga jual suatu produk yang bahan bakunya diambil gratis dari pohon kayu rumah tetangga memakai tenaga kerja diri sendiri yang uang makannya nol rupiah,karena makan singkong gratis dari kebun belakang asrama mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya jiwa sosial opa Petrus yang anak pendeta Yohanes Kaseke lebih besar dari jiwa dagangnya,bagi opa Petrus tidak ada rahasia dapur ilmu membuat kolintang,sehingga semua pengetahuan dan eksperimen eksperimen tentang kolintang dengan sukarela dibagikan kepada siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan bila pada saat saat opa Petrus sibuk keliling dunia pentas kolintang,muncul banyak pembuat kolintang dadakan menampung pesanan kolintang pada saat penjual aslinya tidak ada ditempat,mulai dari tukang tukang opa Petrus,murid murid yang dilatih,juga pelatih kolintang binaan opa Petrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain membagi bagi ilmu,opa Petrus juga sering menurunkan harga jual dengan alasan sosial,sehingga ada suatu saat dimana oma Petrus harus menahan supaya calon pembeli tidak dapat langsung berhubungan dengan opa Petrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oma Petrus yang kegiatan sehari harinya sebagai ibu rumah tangga dan terbiasa tawar menawar belanjaan dipasar tradisional,mulai membantu menangani calon pembeli kolintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktoe itu bisa dipasang pengoemoeman:”bagi soedara soedara calon pembeli kolintang yang maoe minta diskon……,dipersilahken meminta diskon…..”,oma Petroes akan menoeroenken harga kolintang sebesar harga satoe kilo cabe rawit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By: MM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-4589659074368696821?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/4589659074368696821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/diajar-berdagang-oleh-pastur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/4589659074368696821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/4589659074368696821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/diajar-berdagang-oleh-pastur.html' title='Diajar berdagang oleh Pastur'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/SjWVUUXzpSI/AAAAAAAAABs/aAby5LAzGdY/s72-c/opabuyut.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-3119884480489879620</id><published>2009-06-10T22:14:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T22:22:35.967-07:00</updated><title type='text'>Pertemuan Pertama</title><content type='html'>Suatu hari tante Kioe adik papi,mampir kerumah dan berkata kepadaku.”besok pagi pagi akan datang teman tante dari Salatiga ingin berkenalan ,sekalian mengantar kamu ke sekolah.”&lt;br /&gt;Setelah kuceritakan berita itu kepada papi,dia mengatakan kalau teman tante itu orang Sulawesi dan masih ada kebiasaan makan daging manusia pada orang orang luar pulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terdiam dengan pikiran melayang layang membayangkan gambar wajah suku Indian,gambar suku dayak dan orang orang yang sedang melakukan tari cakalele(tari perang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya memutuskan kali ini saya harus berhati hati,meskipun saya tahu beberapa ucapan papi,sulit untuk dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua bulan lamanya saya tidur menemani nenek,untuk membuktikan dan melihat nenek “bertelur”,karena ucapan papi dengan wajah serius mengatakan orang orang tertentu semakin tua akan mengeluarkan telur,digambarkan bentuk telurnya seperti batu pualam dan lebih besar dari telur ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi pagi benar,saya sudah mempersiapkan diri,dan sekitar jam 6.00 pagi seseorang yang mengendarai sepeda motor,berjaket dan mengenakan helm datang menjemput.&lt;br /&gt;Kami berkenalan dan memanggil dia om Petrus.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian saya dibonceng menuju suatu tempat yang katanya tempat memelihara ikan.Tempat itu bernama Balongan cukup jauh dari pusat kota Tegal dan sepi,setahu saya orang Tegal jarang berkunjung ketempat itu,kecuali setahun sekali,pada perayaan pesta air(peh cun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memarkir motor,kemudian dia melepas helm yang menarik perhatian karena baru pertama kali saya melihat pengaman kepala yang pada tahun 1960 an,masih jarang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berjalan beberapa saat ,sampai akhirnya dia berkata,” saatnya makan pagi ,” saya melihat di sekeliling tempat itu sepi,tidak ada penjual makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tercekat,apa yang yang akan dimakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia merogoh jaket kulitnya,dikeluarkannya martabak Bandung dari balik jaketnya,dan kami makan bersama sama,sebelum di antar ke SD Pius Tegal untuk bersekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat makan malam di rumah,saya berkata ke mami.”Mih,…saya nyaris dimakan om Petrus……untungnya dia masih punya persediaan martabak….&lt;br /&gt;Mami tidak menjawab,hanya melirik kearah papi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By : MM dari cerita papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-3119884480489879620?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/3119884480489879620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/pertemuan-pertama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/3119884480489879620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/3119884480489879620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/pertemuan-pertama.html' title='Pertemuan Pertama'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-5591166300381157667</id><published>2009-06-09T07:43:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T07:49:58.741-07:00</updated><title type='text'>Melanglang buana   bermodal  “tiga jurus”.</title><content type='html'>C….A minor……D minor…ke G….kembali ke C lagi……..,&lt;br /&gt;C A minor D minor ke G ke C lagi. A minor D minor ke G ke C lagi. A minor D minor ke G ke C lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik di atas adalah cuplikan dari lagu kuburan band yang  sedang populer saat ini.&lt;br /&gt;Untuk jaman sekarang kunci(chord) di atas relative mudah dimainkan,tidak terlalu kompleks dibandingkan dengan chord chord jazz yang ada diminished,sustained,chord ke13 dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal awal opa Petrus mengadakan pentas kolintang ,chord chord yang di kuasai nya hanya chords dasar ( C=135 , F= 461 , G=572).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu personil  group kolintang yang bernama Paul( mantan mahasiswa Elektro Satyawacana) rupanya gerah dengan kondisi seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan rajin Paul meminjamkan kaset kaset Jazz ke opa Petrus,rupanya diam diam Paul mengharapkan agar permainan chords opa menjadi lebih kaya,tidak terlau monotoon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opa Petrus mengatakan kepada Paul ,kalau dia tidak dapat menikmati nada nada disharmonis yang berjalan jalan naik turun naik turun(Walking bass).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paul membujuk bujuk,supaya setiap hari mendengarkan lagu jazz supaya lama kelamaan familiar dan dapat menikmatinya.&lt;br /&gt;Tapi komentar opa Petrus dengan logat menado jawa ,” lha piye,wong lagu ndak enak,masa disuruh ndengerin setiap hari…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru akhir akhir ini ,seiring dengan perkembangan jaman,dimana lagu lagu yang kaya dengan chord diperdengarkan setiap hari lewat media televisi,radio,dan kaset di segala tempat,sehingga telinga opa sudah mulai familiar dengan nada nada disharmonis yang bisa dinikmati.&lt;br /&gt;Permainan kolintangnya pun akhir akhir ini sudah diperkaya dengan tambahan. chord chord yang selain 3 jurus dasar, seperti minor atau dominant septim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir waktu kami kesalatiga,opa Petrus sempat terheran heran sendiri dengan kejadian masa lalu,”kok ,bisa yah?....keliling dunia pentas kolintang hanya dengan bermodal tiga jurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kalau didengarkan kembali  rekaman lama permainan kolintang opa Petrus,meskipun sedikit variasi chord tetapi dengan kehalusan teknik memukul,kecepatan tangan, tremolo dengan kelenturan satu tangan,serta paduan suara yang seimbang dari ketiga pemukul yang dibunyikan masih belum dapat ditandingi oleh pemain pemain kolintang lainnya,apalagi pada waktu opa Petrus memainkan lagu mars “bambu runcing”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By: MM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-5591166300381157667?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/5591166300381157667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/melanglang-buana-bermodal-tiga-jurus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/5591166300381157667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/5591166300381157667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/melanglang-buana-bermodal-tiga-jurus.html' title='Melanglang buana   bermodal  “tiga jurus”.'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-2912983694972352602</id><published>2009-06-09T07:32:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T07:41:41.381-07:00</updated><title type='text'>Kisah cinta pemicu pengembangan kolintang di pulau jawa.</title><content type='html'>Selalu meraih prestasi juara I dari SD hingga SMA di Ratahan tidak menjamin akan berhasil melewati fakultas mesin di Universitas Gajahmada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut opa Petrus,pada waktu itu textbook-textbook di fakultas mesin belum ada terjemahan Indonesianya,sehingga opa Petrus kesulitan untuk mempelajarinya.&lt;br /&gt;(Menurut opa buyut sih….pokoknya seribu satu macam alasan dech….:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu bantuan beasiswa dari bupati Minahasa tidak cukup untuk meneruskan kuliah,sehingga opa petrus mengalami masa masa sulit,kuliah di teknik Mesin Universitas Gajahmada terancam drop out.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghidupi dirinya,opa bekerja serabutan,selain berusaha menjual kolintang,juga menjadi pemain musik di café café(jaman itu lebih dikenal sebagai kelab malam),atau kadang kadang mengisi acara musik di pentas pentas tertentu,statusnya saat itu menjadi seniman yang tidak mempunyai penghasilan yang jelas sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika opa Petrus diminta mengisi suatu acara di Universitas Satyawacana Salatiga.&lt;br /&gt;Pada saat gladiresik, rektor I Satyawacana pada waktu itu (almarhum  Notohamidjojo) meminta opa memainkan sebuah lagu dengan alat musik kolintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang opa Petrus sudah lupa nama lagu itu,yang masih opa ingat,lagu itu berasal dari kepulauan Sangir Talaud dan biasanya di mainkan sebagai lagu pengiring dansa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cermat  bpk. Noto ,mendengarkan lagu tersebut,memberi petunjuk urut urutan lagu,mulai dari intro,pengulangan sampai endingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu itu terus menerus diminta diperdengarkan selama gladiresik,sambil sekali kali bpk Noto melamun,sampai sampai di dalam hati opa Petrus bertanya tanya,kenapa lagu tersebut minta terus menerus di mainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu ,opa Petrus diberi tawaran bekerja sebagai staff di Universitas Satyawacana Salatiga dengan kondisi yang sangat menyenangkan,diberi ruangan kerja di gedung auditorium,dengan gaji tetap dan waktu kerja yang fleksibel untuk terus dapat mengembangkan alat musik kolintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opa sangat bersyukur dengan tawaran Bpk Noto,yang secara otomatis menaikkan status opa dari seniman luntang luntung menjadi pegawai swasta Universitas Satyawacana,hal ini yang menimbulkan keberanian opa untuk datang ke Tegal untuk melamar oma Petrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang tahu bagaimana kelanjutan kisah kolintang di pulau jawa,jikalau opa Petrus tidak mendapatkan tawaran kerja oleh bpk Noto,kemungkinan besar  opa buyut akan mengirim tiket kapal pulang ke Minahasa,setelah sekian lama menjadi seniman luntang luntung dan drop out kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian hari opa Petrus diberitahu kalau lagu berdansa dari Sangir Talaud mengingatkan akan kekasih alm.bapak Noto yang orang Sangir Talaud,mantan istri pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By: M.M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-2912983694972352602?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/2912983694972352602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/kisah-cinta-pemicu-pengembangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/2912983694972352602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/2912983694972352602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/kisah-cinta-pemicu-pengembangan.html' title='Kisah cinta pemicu pengembangan kolintang di pulau jawa.'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-677858188706263610</id><published>2009-06-09T00:41:00.001-07:00</published><updated>2009-06-09T07:27:23.327-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan Kolintang ke Jogjakarta'/><title type='text'>Perjalanan Kolintang ke Jogjakarta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/Si4TTaKwjwI/AAAAAAAAABk/X0U7txVHOZU/s1600-h/xylophone1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/Si4TTaKwjwI/AAAAAAAAABk/X0U7txVHOZU/s320/xylophone1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345231031898246914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/Si4TADUOA0I/AAAAAAAAABc/VnK7AV0NJTI/s1600-h/gambang.jpeg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 89px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/Si4TADUOA0I/AAAAAAAAABc/VnK7AV0NJTI/s320/gambang.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345230699346395970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada tgl 13 Mei 1830 Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado.menggunakan kapal Pollux.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon Pangeran Diponegoro beserta rombongan dibuang ke Manado .sambil membawa alat musik gamelan lengkap dengan gambangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya selama pembuangan di Minahasa kotak resonator gambang gamelan,meng inspirasi orang orang minahasa untuk membuat kotak resonator kolintang mirip gambang sebagai pengganti tumpuan diatas kaki yang diselonjorkan atau tumpuan batang pisang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Secara tidak langsung kolintang mendapat pengaruh dan memiliki kekerabatan dengan kebudayaan dari jawa.,oleh sebab itu tidak mengherankan jika alat musik kolintang dapat diterima dalam masyarakat jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1962 pemuda Petrus Kaseke pembuat kolintang asal Ratahan mendapat beasiswa dari Bupati Minahasa untuk melanjutkan ilmunya di Universitas Gajahmada Jogjakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa jurusan mesin ini tidak melupakan kegiatan yang dikerjakan dari daerah asalnya selama di Jogjakarta. sebagai  pembuat kolintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat kolintang di Jogjakarta,merupakan perjuangan tersendiri karena kayu kolintang tidak didapatkan secara cuma cuma seperti halnya di sulawesi utara pada saat itu,ditambah lagi kesulitan dana karena statusnya sebagai mahasiswa universitas Gajahmada yang mendapat beasiswa terbatas dari bupati Minahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlainan hal nya dengan di Minahasa dimana kayu kolintang dijadikan kayu bakar,di Jogjakarta Petrus kaseke harus berburu kayu ke rumah rumah penduduk yang mempunyai pohon rindang dengan menawarkan jasa memotong pohon sehingga batang pohon dan dahan dahannya dapat dipakai untuk membuat kolintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha memperkenalkan kolintang ke pulau jawa membuahkan hasil,sehingga kolintang sangat populer di jawa tengah.Perlombaan perlombaan kolintang diadakan sampai ke tingkat kelurahan tidak kalah merakyat di bandingkan dengan kondisi di Minahasa,sering kali Petrus Kaseke diundang sebagai juri lomba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini dengan maraknya group musik campur sari,banyak pembeli kolintang secara eceran,ada yang membeli bass kolintang untuk digabungkan dengan group keroncong,ada yang beli cellonya atau melodynya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolintang berkembang mulai dari fungsi alat untuk ritual animisme di Minahasa,menjadi perlengkapan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah sekolah,juga alat musiknya kegiatan ibu ibu PKK, kegiatan keagamaan dan acara acara lainnya di pulau jawa,tanpa bantuan iklan besar besaran di surat kabar atau televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang orang yang percaya mistis ,mengatakan  gambang “kolintang” yang dibawa oleh pangeran Diponegoro waktu di buang ke Menado th 1830,harus sowan dahulu ke Jogjakarta lewat Petrus Kaseke th 1962,sebelum menyebar ke pulau jawa dan seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By: Markus Sugi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-677858188706263610?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/677858188706263610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/pada-tgl-13-mei-1830-pangeran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/677858188706263610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/677858188706263610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/pada-tgl-13-mei-1830-pangeran.html' title='Perjalanan Kolintang ke Jogjakarta'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/Si4TTaKwjwI/AAAAAAAAABk/X0U7txVHOZU/s72-c/xylophone1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-6331647706917818087</id><published>2009-06-07T08:45:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T07:31:20.540-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ratahan'/><title type='text'>Ratahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/Sivh5N7mn4I/AAAAAAAAABU/LPidG8GRQvk/s1600-h/ratahan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 228px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/Sivh5N7mn4I/AAAAAAAAABU/LPidG8GRQvk/s320/ratahan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344613755913674626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratahan…Ratahan….Oh Ratahan ….     &lt;br /&gt;Setempat yang indah permai……….&lt;br /&gt;Mari kita masuk Ratahan…………..&lt;br /&gt;Setempat yang indah permai……….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lirik di atas adalah adaptasi sebuah lagu yang mengganti kata “Kanaan” menjadi “Ratahan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratahan adalah nama sebuah kecamatan di Minahasa Selatan,tempat asal opaku Petrus Kaseke  ,tepatnya di desa Rasi.&lt;br /&gt;Anak dari seorang petani yang juga pendeta bernama Yohanes Kaseke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat silsilah keluarga opa Petrus yang unik.&lt;br /&gt;Kakek buyut opa Petrus  bernama Petrus kaseke.&lt;br /&gt;Kakeknya opa Petrus  bernama Leufrand Kaseke&lt;br /&gt;Papanya opa Petrus  bernama Yohanes Kaseke&lt;br /&gt;Anaknya opa Petrus  bernama Leufrand kaseke&lt;br /&gt;Kalau menuruti aturan pengulangan nama ,bisa ditebak nanti putra  Leufrand Kaseke akan dinamai Yohanes Kaseke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hayoo….? siapa yang mau siap siap memberi kado bayi dari sekarang?istri belum ada,tapi nama anak sudah di siapkan…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leufrand Kaseke senior berprofesi sebagai tukang kayu,jadi bakat menukang dan sebagian peralatan tukang kayu diwariskan oleh kakeknya opa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pada umumnya di daerah Minahasa,orang orang Menado gemar mengadakan pesta,dansa dansi,baik pada pesta pernikahan atau pada acara acara pertemuan lainnya,apalagi pada waktu sekitar pergantian tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan di atas secara otomatis menumbuhkan kebiasaan suka menyanyi dan bermain musik,juga dansa.&lt;br /&gt;Tidak mengherankan kalau opa Petrus sudah terbiasa menyetem(tuning) gitar sejak usia 5 tahun,meskipun belum dapat memainkan gitar.&lt;br /&gt;Waktu kecil opa Petrus sering menawarkan diri untuk menyetem(tuning) gitar,yang sedang dimainkan orang orang dewasa yang tidak menyadari gitarnya fals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kecil opa Petrus membuat kolintang hanya sebagai hobby.&lt;br /&gt;Kalau disuruh papanya untuk mencari kayu bakar,maka sambil memotong motong,kayu bakarnya juga di stem(tuning) membentuk nada dan setelah bosan bermain,kayu kayu “kolintang” tersebut dikumpulkan kembali untuk di jadikan kayu bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By : Liza markus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-6331647706917818087?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/6331647706917818087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/ratahan-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/6331647706917818087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/6331647706917818087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/06/ratahan-1.html' title='Ratahan'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/Sivh5N7mn4I/AAAAAAAAABU/LPidG8GRQvk/s72-c/ratahan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-3502665794636368219</id><published>2009-05-27T11:25:00.000-07:00</published><updated>2009-06-04T04:18:59.005-07:00</updated><title type='text'>Empu Kolintang Indonesia.</title><content type='html'>&lt;p&gt;Pada tanggal 16 September 2006 dicatat dalam rekor Muri  bermain kolintang massal dengan 200 buah alat musik kolintang di Jakarta,tak lama kemudian rekor Muri bermain kolintang massal dengan 585 buah alat musik kolintang dipecahkan di Minahasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk memecahkan rekor Muri tersebut bukan hal yang sulit bagi daerah asal alat musik kolintang yang tiap desanya minimal mempunyai satu set alat musik kolintang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti halnya 57 tahun yang lalu seorang bocah Petrus Kaseke dapat membuat kolintang pada usia 10 tahun,demikian pula rakyat minahasa tidak kesulitan membuat kolintang,apalagi ditunjang oleh faktor kemudahan untuk mendapatkan bahan baku kayu kolintang. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan pengrajin pengrajin kolintang di minahasa  adalah pengrajin amatir,dimana alat musik kolintang di buat untuk di konsumsi group kolintang sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Petrus Kaseke,adalah pengrajin kolintang pertama yang memproduksi kolintang untuk tujuan komersial pada tahun 1964,sebagai mata pencaharian penunjang biaya hidupnya selama kuliah di UGM Jogjakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berbagai usaha dilakukan untuk membuat kolintangnya laku dan memuaskan konsumen,karena sebagai produsen kolintang pertama di Indonesia,pesaingnya bukan sesama pengrajin kolintang tetapi dengan alat musik lain yang bukan kolintang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengembangan pertama&lt;/strong&gt; adalah membuat wilayah nada (range) alat musik kolintang makin lebar dengan kata lain membuat not melody dengan nada setinggi mungkin dan membuat not bas kolintang mencapai nada yang serendah mungkin yang dapat dicapai oleh wilahan kolintang,dengan mencoba berbagai macam jenis kayu dan ukuran kayu wilahan(bagian atas yang di pukul).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari usaha pencariannya selama  bertahun tahun mencoba berbagai jenis kayu ,mulai dari wilahan kayu kelapa,kayu aren,kayu wilahan sonokeling dan berbagai jenis kayu lainnya,akhirnya didapat kayu waru yang ideal untuk dijadikan wilahan kolintang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekarang rentang wilayah nadanya sudah mendekati 6 oktaf(70 not),sebagai perbandingan rentang nada pada piano mendekati 8 oktaf(88 not).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengembangan kedua&lt;/strong&gt; adalah membuat bunyi(resonansi)yang semakin baik,dengan pemilihan bahan maupun ukuran peti(resonator box)kolintang.Berbagai eksperimen dicoba dengan merubah rubah ukuran petinya,mulai dengan memanjangkan ,memendekan,meninggikan,menyekat bagian dalam peti,mengisi dengan bahan kedap suara dan usaha usaha lainnya.,sampai didapat ukuran peti yang ideal.Tidak berhenti sampai disitu,pemukul kolintang(sticks) dijadikan sasaran eksperimennya,dengan cara memanjangkan,memendekan,merampingkan,mencoba memasangkan  bagian kepala(head stick),dengan aneka jenis karet dan variasi ketebalannya.Sama halnya dengan karet pemukul,karet alas wilahan yang asalnya terdiri dari rangkaian karet gelang,sudah dimodifikasi dengan karet kaca mobil yang lebih awet.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengembangan ketiga&lt;/strong&gt; dengan membuat kolintang  mudah di pindah pindahkan,dengan tanpa mengurangi kwalitas suara,dengan membuat kolintang lebih ringkas dengan sistim knockdown ,serta ukuran peti yang dibuat sedemikian rupa agar peti yang lebih kecil dapat dimasukkan kedalam peti yang lebih besar.Pemilihan jenis kayu yang lebih ringan dan ukuran peti yang disesuaikan dengan kendaraan angkutan juga merupakan pertimbangan,disamping asesories pelengkap seperti roda pada kaki kolintang dan handle untuk memudahkan mengangkat peti kolintang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengembangan ke empat&lt;/strong&gt; dengan membuat nada kolintang lebih akurat dan lebih stabil,dengan bantuan mesin oven kayu untuk penyesuaian kadar air yang mencapai kekeringan tertentu sehingga akurasi nadanya tidak mudah dipengaruhi cuaca.Untuk mendapatkan nada yang akurat selain dengan kepekaan telinga ,juga dibantu dengan alat tuner yang menggunakan sistim komputer.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengembangan kelima&lt;/strong&gt;,membuat penampilan kolintang lebih bagus.Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan finishing yang bagus,dengan tidak sayang mengeluarkan biaya  untuk kursus finishing.Sebetulnya ada banyak alternatif finishing alat musik ethnic asal minahasa ini,misalnya dengan finishing kayu batik,atau mengukir peti kolintang,tetapi Petrus Kaseke sampai saat ini lebih memilih finishing yang berkesan simple dan modern seperti pada finishing alat musik piano.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengembangan demi pengembangan&lt;/strong&gt; terus dilakukan sepanjang waktu,bahkan sampai ke hal hal yang kelihatannya sepele,seperti penomoran nada pada wilahan kolintang,melamic wilahan kolintang,cover kolintang,serta sticker kolintang yang memudahkan Petrus Kaseke untuk mengenali kolintang produksinya  saat “after sales servis” dan perbaikan alat musik kolintang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tantangan selanjut&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;nya&lt;/strong&gt; yang sedang diperjuangkan adalah membuat kolintang lebih mudah di tune(di stem/diselaraskan nadanya),sehingga pemain kolintang dapat menyelaraskan nada kolintang tanpa bantuan tenaga tuner khusus,seperti halnya menyetem guitar.Yang terjadi sekarang ini,diperlukan kombinasi seorang tukang kayu yang mempunyai tenaga kuat dan seorang pemusik yang mempunyai telinga peka untuk menyelaraskan nada.kolintang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Harapannya yang besar&lt;/strong&gt; adalah, membuat kolintang sebagai alat musik Indonesia yang dapat menyebar ke seluruh dunia sebagai alat musik yang popular seperti halnya guitar dan piano,dan dapat di produksi secara massal.Sebagai market leader,produk kolintang Petrus kaseke banyak ditiru oleh pengrajin pengrajin kolintang yang lain.Bahkan lucunya dikota Salatiga Jawa Tengah tempat Petrus Kaseke menetap,beberapa pengrajin kolintang juga menggunakan nama Petrus,bahkan tempat tinggal yang dahulu pernah dihuni Petrus Kaseke,disewa oleh pengrajin kolintang yang lain demi mendapatkan order nyasar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Petrus Kaseke tidak terlalu memusingkan diri dengan  hal hal persaingan usaha tersebut,yang penting terus berkarya mengembangkan kolintang dengan lebih baik.Dengan berjalannya waktu, beberapa pengrajin kolintang yang hanya ikut ikutan mulai gulung tikar atau banting usaha menjadi pengrajin meubel atau industri lainnya.Tak terasa waktu sudah berjalan 57 tahun,sejak Petrus Kaseke (67 th)pertama kali membuat alat musik kolintang,hingga sekarang masih belum berhenti mengembangkan kolintang dan bahkan belum pernah berpaling ke bidang usaha lainnya.Untuk kesetiaan keuletan,dedikasi yang tinggi terhadap pengembangan alat musik kolintang pantaslah kalau Petrus Kaseke dijuluki sebagai Empu Kolintang Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oleh: Markus SugiTgl 28 Mei 2009 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-3502665794636368219?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/3502665794636368219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/05/empu-kolintang-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/3502665794636368219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/3502665794636368219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/05/empu-kolintang-indonesia.html' title='Empu Kolintang Indonesia.'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6767109924756802125.post-7002908112736180701</id><published>2009-05-27T11:23:00.000-07:00</published><updated>2009-06-04T04:14:03.577-07:00</updated><title type='text'>Kolintang, alat musik Minahasa yang mendunia</title><content type='html'>Kolintang, alat musik Minahasa yang mendunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat musik kolintang termasuk jenis instrument perkusi yang berasal dari Minahasa Sulawesi Utara.&lt;br /&gt;Alat musik itu disebut kolintang karena apabila di pukul berbunyi : Tong-Ting –Tang.&lt;br /&gt;Pada mulanya kolintang hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer diatas kedua kaki pemain yang duduk selonjor di lantai.dan dipukul pukul.&lt;br /&gt;Fungsi kaki sebagai tumpuan bilah bilah kayu(wilahan/tuts) kemudian diganti dua potong batang pisang atau dua utas tali.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Konon penggunaan peti resonator sebagai pengganti batang pisang mulai di gunakan sesudah Pangeran Diponegoro di buang ke Menado (tahun 1830) yang membawa serta “gambang”  gamelannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan kolintang erat hubungannya dengan kepercayaan rakyat Minahasa,yang biasanya dipakai dalam upacara upacara pemujaan arwah arwah para leluhur.&lt;br /&gt;Dengan berkembangnya agama Kristen yang di bawa oleh misionaris misionaris Belanda,eksistensi kolintang yang merupakan bagian dari kepercayaan animisme menjadi demikian terdesak bahkan hampir punah,menghilang selama lebih dari 50 tahun.&lt;br /&gt;Setelah perang Dunia II,kolintang muncul kembali dipelopori oleh Nelwan Katuuk, seniman tuna netra asal Minahasa bagian utara yang merangkai nada kolintang menurut skala diatonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1952,di Minahasa bagian selatan (Ratahan)  seorang anak berusia 10 tahun bernama Petrus Kaseke,terinspirasi membuat kolintang dengan dasar petunjuk orang orang tua yang pernah melihat kolintang dan dari mendengar suara musik kolintang yang di populerkan lewat siaran RRI Minahasa yang di mainkan oleh Nelwan Katuuk.&lt;br /&gt;Sulitnya hubungan transportasi antara Minahasa bagian utara dengan Minahasa bagian selatan pada waktu itu tidak meluruhkan semangat putra pendeta Yohanes Kaseke dan almarhum Adelina Komalig untuk berkreasi tanpa melihat contoh, dengan bermodal potongan potongan kayu bakar yang diletakkan di atas dua batang pisang dan di tuning (stem) nada natural dengan rentang nada 1 oktaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah prestasi yang luar biasa jika pada tahun 1954 ,Petrus Kaseke yang kala itu masih terbilang bocah mampu membuat kolintang dua setengah oktaf nada diatonis dengan peti resonator.Kemampuannya terus terasah dan berkembang,terbukti pada tahun 1960 berhasil meningkatkan rentang nada menjadi tiga setengah oktaf yang dimainkan oleh dua orang pada satu alat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan bea siswa dari Bupati Minahasa untuk meneruskan kuliah di Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada tahun 1962,suami dari Tjio Kioe Giok terus mengembangkan alat musik kolintang dengan mengganti jenis jenis kayu wilahan yang ada di Minahasa seperti kayu Telur,Bandaran,Wenang ,Kakinik dengan kayu yang ada di pulau Jawa yang menghasilkan kwalitas nada yang sama yaitu kayu Waru.&lt;br /&gt;Kolintang mulai diproduksi secara komersial  pada tahun 1964,sambil dipopulerkan melalui pentas pentas kolintang keliling Jawa Tengah ,Jawa Timur dan Jawa Barat,dengan membentuk kelompok musik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berlalu,usaha dari bapak dua anak Leufrand Kaseke dan Adelina Kaseke semakin berkembang.&lt;br /&gt;Kelompok musik yang dibentuknya sudah pentas melanglang ke berbagai negara di dunia,&lt;br /&gt;Mulai tahun 1972 hingga sekarang,ia tinggal Salatiga Jawa Tengah dan membangun usahanya,dimana bahan baku kolintang berupa kayu Waru mudah di dapatkan di sekitar Rawa Pening Salatiga.&lt;br /&gt;Pemesanan dari luar negeri terus mengalir,antara lain dari Australia,China,Jepang,Korea,Hongkong,Swiss,Kanada,Jerman,Belanda,Amerika  bahkan Negara Negara di Timur Tengah.&lt;br /&gt;Hampir semua kedutaan besar Indonesia di dunia mengkoleksi alat musik kolintang buatan Petrus Kaseke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inovasi terus menerus dari Petrus Kaseke dan pengrajin kolintang lainnya sudah menempatkan kolintang setara dengan instrument musik moderen popular seperti gitar,biola ,piano,xylophone dan marimba.Sehingga agar dapat dikategorikan alat musik etnis tradisional, kolektor dan distributor alat musik etnis Asia dari Korea,harus memesan kolintang dengan desain yang khusus,yang lebih mengesankan kuno.&lt;br /&gt;Jaman sekarang kolintang sudah merupakan alat musik yang tidak asing lagi bagi penduduk Indonesia pada umumnya,dengan penyebarannya di sekolah sekolah,gereja dan perkumpulan lainnya,instansi instansi pemerintah juga seringnya festival festival dan lomba kolintang baik tingkat daerah maupun tingkat nasional ditambah pula era globalisasi dan internet membantu mempopulerkan kolintang keseluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Markus Sugi)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6767109924756802125-7002908112736180701?l=kolintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolintang.blogspot.com/feeds/7002908112736180701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/05/kolintang-alat-musik-minahasa-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/7002908112736180701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6767109924756802125/posts/default/7002908112736180701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolintang.blogspot.com/2009/05/kolintang-alat-musik-minahasa-yang.html' title='Kolintang, alat musik Minahasa yang mendunia'/><author><name>Kolintang Petrus Kaseke</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04049163583093171193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='15' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_g92_vYsh5_8/S34VtEq33sI/AAAAAAAAACM/f-1L2wXD9Mg/S220/markuskolintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
