19 Jun 2009

Asal Usul Kolintang(cerita rakyat)

Pada jaman dahulu didaerah Minahasa Propinsi Sulawesi Utara ada sebuah desa yang indah bernama To Un Rano yang sekarang dikenal dengan nama Tondano.
Didesa To Un Rano itu tinggalah seorang gadis cantik jelita.Kecantikannya tersohor keseluruh pelosok desa,sehingga banyak dibicarakan orang,maka tak mengherankan banyak pemuda yang jatuh hati kepadanya.Gadis itu bernama Lintang.Ia pandai menyanyi , suaranya nyaring dan merdu.
Pada suatu hari didesa To Un Rano,diselenggarakan pesta muda mudi.Saat itu seorang pemuda gagah dan tampan memperkenalkan diri kepada Lintang”Makasiga namaku,aku berasal dari desa Kelabat Atas,”kata Makasiga sambil menjabat tangan Putri Lintang.
Memang putri Lintang pernah mendengar nama Makasiga.Makasiga adalah seorang pemuda ahli ukir-ukiran dari desa Kelabat Atas.Dan perkenalan mereka itupun berlanjut.
Makasiga ingin meminang putri Lintang.Putri Lintang menerima pinangan Makasiga,tetapi dengan satu syarat.”Buatkan aku musik yang lebih merdu dari bunyi seruling emas*,”kata Putri Lintang kepada Makasiga.Makasiga menyanggupi persyaratan Putri Lintang tersebut.Dan berkat keuletannya,dengan cepat Makasiga mendapatkan alat musik yang lebih keras dari bunyi seruling emas*,namun bukan itu yang dimaksud Putri Lintang.
Akhirnya Makasiga berkelana mencari alat musik yang dimaksud Putri Lintang.
Makasiga berkelana keluar masuk hutan,ternyata alat musik yang dimaksud Putri Lintang belum didapatkan.Untuk mengusir hawa dingin dimalam hari,Makasiga membelah-belah kayu dan menjemurnya.Setelah belahan kayu itu kering ,lalu diambil satu persatu dan dilemparkannya ketempat lain.Sewaktu belahan kayu itu dilempar dan jatuh ketanah,saat itulah belahan-belahan kayu itu mengeluarkan bunyi-bunyian yang amat nyaring dan merdu.
“Ha, belahan-belahan kayu ini pasti dapat dibuat alat musik,”pikir Makasiga.
Berkat ketekunan dan keuletan Makasiga,akhirnya Makasiga berhasil membuat alat bunyi-bunyian itu.
Diletakkannya lidi berderet berjajar dua.Dari deretan lidi di susun tali serat pangkal daun enau.Potongan potongan kayu dibuat berbeda panjangnya yang merupakan urutan not -not tertentu,kemudian di susun pada tali itu.Alat bunyi -bunyian diletakkan pada sebuah palung yang kakinya ada empat setinggi paha.
“Hem, pasti Putri Lintang puas dengan alat bunyi-bunyian ini dan pinanganku diterima,”gumam Makasiga sambil membunyikan alat itu.
Dari jauh ada dua orang pemburu yang mendengarnya.Mereka ketakutan karena dikiranya setan penunggu hutan sedang bermain musik.
Namun setelah pemburu itu mendekatinya,ternyata mereka mengenalnya.Ia adalah Makasiga dari desa Kelabat Atas .
Kedua pemburu sangat terkejut melihat Makasiga yang telah menjadi kurus kering dan lemah.Sebab selama dihutan Makasiga tidak pernah makan dan minum.Yang ia cari adalah alat bunyi bunyian yang dapat diterima dan menyenangkan hati Lintang.
Saat itu kedua pemburu membawa Makasiga dengan tandu pulang ke Desa Kelabat Atas.Makasiga jatuh sakit yang amat parah.Akhirnya Makasiga meninggal dunia.
Putri Lintang yang mendengar bahwa Makasiga telah meninggal dunia,langsung jatuh sakit parah dan akhirnya menyusul Makasiga di alam baka.Mereka telah meninggalkan jasa tiada tara yaitu telah menemukan alat musik yang dikenal dengan nama kolintang.
Dari:Cerita Asli Indonesia
*seruling emas:alat musik yang berbunyi merdu dan indah, milik Putra Mahkota Raja Mongondow yang gagal meminang Putri Lintang karena kasus tertentu.
**referensi lain mengenai seruling emas,dapat dibaca dibuku cerita silat karangan Kho Ping Ho.